BOGOR | Tv1.co.id — Langkah jajaran Polsek Kemang dalam menangani dugaan kejahatan seksual di Cafe & Resto King semakin memicu kecurigaan publik. Alih-alih bekerja secara transparan, justru media yang diminta menurunkan pemberitaan terlebih dahulu. Kini muncul fakta baru yang lebih mengerikan: karyawan tidak hanya menjadi sasaran pelecehan, tetapi juga diperas melalui potongan gaji yang tidak masuk akal.
📉 BERITA DIHAPUS, BARU ADA TINDAKAN
Seperti yang telah diungkapkan, Kapolsek Kemang AKP. Yulita Heriyanti awalnya berjanji akan menindaklanjuti pemberitaan. Namun tak lama kemudian, Panit Reskrim Polsek Kemang justru minta berita dihapus:
“Assalamu’alaikum mas, saya Panit Kenang terkait pemberitaan mohon dibantu untuk diturunkan (dihapus). Ke depannya bisa komunikasi sama saya, kebetulan Ibu Kapolsek sedang sibuk. Nanti kita atur pertemuan terkait informasi yang disampaikan.” — Panit Kenang, Panit Reskrim Polsek Kemang
Dengan niat baik, media menuruti permintaan tersebut. Apa balasannya? Pada 16 Oktober 2026, Panit Kenang baru menyampaikan:
“Semalam kita sudah datangi lokasi King bersama Kapolsek dan jajaran, namun yang bersangkutan sedang di luar kota. Dijadwalkan bertemu hari Rabu sepulang dari luar kota.”
Sungguh kebetulan yang sangat tepat! Saat polisi datang, pemiliknya sedang “di luar kota”. Padahal tempatnya tetap buka dan beroperasi. Apakah ada yang memberi peringatan lebih dulu? Atau ini alasan yang sudah disiapkan sebelumnya?
FAKTA MENGERIKAN DARI BELAKANG LAYAR: POTONGAN GAJI MISTERIUS
Sementara publik dijanjikan pertemuan, awak media justru mengungkap keluhan lain yang lebih mendalam dari sumber yang dapat dipercaya — karyawan yang takut dipersalahkan:
“Bukan hanya pelecehan, hak kami juga banyak dipotong sepihak oleh manajemen. Bulan ini kan si ‘Papih’ ulang tahun, masa kita karyawan wajib ikut bayar perayaan ulang tahunnya — dipotong langsung gaji kita Rp 700.000! Belum lagi potongan wajib yang katanya buat ke dukun kalau tempat sepi. Sebulan kena potong Rp 500.000, tapi kita nggak pernah dibawa ke dukun itu uangnya ke mana?”
Bayangkan: Pekerja yang kemungkinan besar sudah menjadi korban pelecehan, gajinya juga dirampas dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal — termasuk “biaya dukun” yang tidak jelas peruntukannya. Ini bukan sekadar pelanggaran ketenagakerjaan, ini pemerasan sistematis.
❓ PERTANYAAN YANG HARUS DIPECAHKAN:
🔴 Mengapa Polsek Kemang lebih sibuk meminta berita dihapus daripada segera memeriksa pemilik tempat tersebut? Apakah pemberitaan mengganggu “kesepakatan” tertentu?
🔴 Mengapa saat lokasi didatangi, pemiliknya tiba-tiba “di luar kota”? Siapa yang memberi kabar bahwa media sudah mundur dan polisi akan datang?
🔴 Di mana izin operasional tempat ini? Camat Kemang sudah menegaskan tidak pernah memberi izin, tempat ini pernah ditindak — tapi tetap berdiri dan beroperasi seolah tak tersentuh hukum. Kenapa?
🔴 Potongan gaji wajib untuk ulang tahun pemilik dan “biaya dukun” — ini sudah masuk ranah pidana pemerasan. Mengapa belum ada penyidik yang menanyakan hal ini?
🔴 Siapa yang sebenarnya dilindungi oleh pihak yang berwajib di wilayah Kemang ini? Warga yang menjadi korban, atau pelaku yang punya kuasa dan uang?
⚠️ PERINGATAN UNTUK PUBLIK
Kami memberi tahu pihak Polsek Kemang dan semua pihak terkait: Warga sedang mengawasi setiap langkah kalian. Jika pada pertemuan hari Rabu nanti hanya akan muncul alasan baru, penundaan lagi, atau upaya membungkam media — maka seluruh rakyat berhak menyimpulkan: Ada sesuatu yang sedang ditutupi, dan ada pihak yang dilindungi di balik semua ini.
Kasus ini bukan sekadar soal izin usaha. Ini soal kejahatan seksual, pemerasan terhadap pekerja, dan dugaan perlindungan yang membuat hukum tak berdaya di depan kekuasaan uang.
Kebenaran tidak bisa ditunda selamanya. Kami tidak akan pergi. Kami tidak akan berhenti. ✊


