Kota Bekasi, 1 Mei 2026 — Pemerintah Kota Bekasi kembali meluncurkan program inovasi melalui Bekasi PRIDE Award 2026. Namun di balik seremoni kick off, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana inovasi yang dihasilkan benar-benar berdampak dan berkelanjutan, bukan sekadar formalitas tahunan?
Program yang digagas oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Bekasi ini disebut sebagai transformasi dari Bekasi Innovation Week yang telah berjalan sejak 2020. Perubahan nama menjadi Bekasi PRIDE (Planning, Research, and Innovation Development) diklaim sebagai upaya integrasi antara perencanaan, riset, dan inovasi.
Namun, transformasi nomenklatur ini justru membuka ruang evaluasi: apakah perubahan tersebut diikuti peningkatan kualitas, atau hanya sebatas rebranding program?
Dari Seremoni ke Implementasi Nyata
Kepala Bapperida Kota Bekasi, Dicky Irawan, menegaskan bahwa ajang ini bertujuan menghasilkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Pernyataan tersebut menjadi kunci sekaligus tantangan. Pasalnya, dalam banyak program inovasi daerah di Indonesia, persoalan utama bukan pada ide, melainkan keberlanjutan implementasi di lapangan.
Banyak inovasi berhenti pada tahap lomba atau penghargaan, tanpa integrasi kuat ke dalam sistem pelayanan publik.
Posyantek dan TTG: Potensi Besar, Tantangan Lapangan
Fokus pada Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) dan penguatan Posyantek menjadi langkah strategis. Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak Posyantek di tingkat kelurahan belum optimal, bahkan sebagian belum aktif.
Bimbingan teknis yang dilakukan dalam kegiatan ini menjadi indikasi bahwa penguatan kapasitas masih menjadi pekerjaan rumah utama.
Tanpa pendampingan berkelanjutan, inovasi teknologi berisiko tidak terpakai atau tidak berkembang setelah kompetisi selesai.
Komitmen Pemerintah, Ujian Konsistensi
Kegiatan dibuka oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Bekasi, Lintong Dianto Putra, yang mewakili Wali Kota Bekasi.
Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya inovasi yang adaptif dan berdampak.
Namun, komitmen tersebut akan diuji pada tahap pasca-ajang, terutama dalam hal:
- integrasi inovasi ke kebijakan daerah
- alokasi anggaran lanjutan
- monitoring dan evaluasi implementasi
Tanpa tiga aspek tersebut, inovasi berpotensi menjadi sekadar arsip prestasi, bukan solusi nyata.
Kompetisi Bukan Tujuan Akhir
Bekasi PRIDE Award 2026 menghadirkan dua kompetisi utama: Lomba Inovasi Daerah dan Lomba Teknologi Tepat Guna dengan berbagai kategori strategis.
Meski demikian, kompetisi seharusnya hanya menjadi pintu masuk, bukan tujuan akhir.
Keberhasilan program ini akan ditentukan oleh sejauh mana ide-ide yang lahir mampu:
- diterapkan secara konsisten
- direplikasi di wilayah lain
- memberikan dampak langsung bagi masyarakat
Arah Baru atau Rutinitas Tahunan?
Bekasi PRIDE Award 2026 membawa semangat baru dalam penguatan ekosistem inovasi. Namun, keberhasilannya tidak akan diukur dari kemeriahan acara atau jumlah peserta.
Tolok ukur utamanya adalah hasil konkret di lapangan.
Apakah program ini benar-benar menjadi motor perubahan, atau kembali menjadi rutinitas tahunan dengan capaian yang sulit diukur?
Jawabannya akan terlihat dalam implementasi, bukan pada panggung seremoni.
Jurnalis: Romo Kefas
Editor: Tim Redaksi
