Di Negeri yang Belum Terjangkau Sinyal, Suara Pujian Tetap Bergema: Potret Makkaringgi yang Menanti Pemerataan Pembangunan
Kalumpang, Mamuju – Ketika sebagian besar masyarakat Indonesia menikmati kemudahan akses internet, jalan beraspal, dan pasokan listrik yang relatif stabil, kehidupan di Dusun Makkaringgi, Desa Makkaliki, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, masih berjalan dalam kesederhanaan.
Untuk menghubungi dunia luar, warga harus mencari lokasi tertentu yang dapat menangkap sinyal telepon. Ketika malam tiba, penerangan tidak selalu tersedia karena aliran listrik belum sepenuhnya stabil. Sementara itu, perjalanan menuju dusun harus melewati jalan perbukitan yang sempit dan menantang, terutama saat musim hujan.
Namun, di tengah kondisi tersebut, semangat masyarakat untuk membangun kehidupan tidak pernah surut. Hal itu terlihat saat Jemaat GSJA Calvari Makkaringgi menggelar Ibadah Ucapan Syukur Tahunan dan Syukur Hasil Panen pada 27–28 Juni 2026.
Bagi warga, ibadah bukan hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga ruang mempererat persaudaraan dan memperkuat harapan bahwa kehidupan akan terus bergerak menuju masa depan yang lebih baik.
Tim pelayanan yang dipimpin Pdt. Effendy Laoh, S.Th. harus menempuh perjalanan panjang menggunakan sepeda motor melintasi jalur pegunungan untuk dapat menjangkau lokasi tersebut. Tidak adanya jaringan telekomunikasi membuat setiap perjalanan harus dipersiapkan dengan matang karena komunikasi praktis terputus ketika memasuki kawasan pedalaman.
Meski demikian, seluruh rangkaian ibadah berlangsung dengan penuh sukacita. Lagu-lagu pujian menggema dari gereja sederhana yang menjadi pusat kehidupan rohani masyarakat setempat.
Dalam khotbahnya, Pdt. Effendy Laoh menekankan bahwa rasa syukur tidak boleh ditentukan oleh keadaan.
“Justru dalam keterbatasan kita belajar melihat bahwa kasih Tuhan tidak pernah berkurang. Apa yang sederhana di mata manusia dapat menjadi luar biasa ketika dijalani dengan iman,” ungkapnya.
Sementara itu, Gembala Sidang GSJA Calvari Makkaringgi, Pdt. Erick Kristanto, mengatakan jemaat selama ini tetap menjalankan seluruh kegiatan pelayanan meskipun fasilitas yang tersedia masih terbatas.
Menurutnya, warga telah memiliki pembangkit listrik tenaga air sederhana. Namun medan pegunungan membuat distribusi listrik belum dapat berlangsung secara optimal sehingga pada setiap ibadah malam gereja masih mengoperasikan generator sebagai sumber penerangan.
“Kami tidak ingin keterbatasan menjadi alasan untuk berhenti melayani. Yang terpenting adalah semangat jemaat tetap hidup dan kasih Tuhan terus diberitakan,” katanya.
Di luar kegiatan ibadah, kondisi infrastruktur menjadi perhatian yang tidak dapat diabaikan. Jalan menuju Makkaringgi masih didominasi jalur tanah dan bebatuan dengan beberapa bagian yang telah diperkeras menggunakan rabat beton berukuran terbatas. Akses tersebut digunakan setiap hari oleh warga untuk membawa hasil panen, menuju sekolah, memperoleh pelayanan kesehatan, maupun menjalankan aktivitas sosial.
Masyarakat berharap pembangunan di kawasan pedalaman Kalumpang terus berlanjut sehingga seluruh warga dapat menikmati akses yang lebih layak terhadap transportasi, listrik, telekomunikasi, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Pemerataan pembangunan diyakini bukan hanya mempercepat pertumbuhan ekonomi desa, tetapi juga memperkuat pelayanan sosial dan keagamaan yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
Kisah dari Makkaringgi memperlihatkan bahwa Indonesia masih memiliki banyak wilayah yang terus berjuang dalam sunyi. Meski belum menikmati fasilitas yang sama seperti daerah lain, masyarakat tetap memelihara optimisme, bekerja di ladang, membesarkan keluarga, dan membangun kehidupan dengan semangat gotong royong.
Di tempat yang belum sepenuhnya tersentuh kemajuan infrastruktur itu, suara pujian tetap bergema, doa-doa terus dinaikkan, dan pengharapan tetap hidup.
Sebagaimana tertulis dalam Yohanes 1:5, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.” Firman tersebut menjadi gambaran nyata tentang kehidupan Jemaat GSJA Calvari Makkaringgi yang terus menjadi terang di tengah keterbatasan.
Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan nasional akan semakin bermakna apabila mampu menjangkau masyarakat hingga ke pelosok negeri, sehingga tidak ada lagi wilayah yang merasa tertinggal dari arus kemajuan Indonesia.
Reporter: Effendy Laoh
Kalumpang, Sulawesi Barat


