Partai Kristen Bangkit? Jangan Dulu Rayakan, Tanya Dulu: Mau Jadi Garam atau Jadi Pajangan Demokrasi?
Oleh: Bocah Bekasi
Bekasi – Belakangan ini mulai terdengar bisik-bisik tentang kebangkitan politik Kristen. Ada yang menyambutnya dengan penuh semangat, ada yang menganggapnya angin segar bagi demokrasi, dan ada pula yang melihatnya hanya sebagai daur ulang ide lama dengan kemasan baru.
Namun sebagai Bocah Bekasi yang terbiasa melihat kehidupan apa adanya, saya justru ingin bertanya:
Karena dalam politik Indonesia, kadang yang terlihat seperti kebangunan rohani ternyata hanya rapat konsolidasi. Yang terlihat seperti panggilan pelayanan ternyata ujung-ujungnya pembagian posisi.
Politik Indonesia: Ramai di Panggung, Sunyi di Pengawasan
Politik Indonesia hari ini ibarat sebuah hajatan besar.
Tenda megah.
Lampu terang.
Musik kencang.
Tamu berdatangan.
Semua tampak meriah.
Masalahnya, tidak banyak yang bertanya siapa yang membayar tagihannya nanti.
Koalisi besar hari ini membuat politik terlihat stabil. Hampir semua berkumpul dalam satu lingkaran. Hampir semua bicara tentang persatuan.
Persatuan memang indah.
Tetapi dalam demokrasi, persatuan tanpa pengawasan bisa berubah menjadi kenyamanan bersama untuk tidak saling mengoreksi.
Kalau dalam bahasa warung kopi Bekasi:
“Kalau semua orang jadi panitia, siapa yang jadi penonton yang ngontrol acara?”
Demokrasi bukan hanya soal siapa yang memerintah.
Demokrasi juga soal siapa yang berani mengingatkan ketika pemerintah mulai lupa diri.
Partai Kristen: Menjadi Nabi atau Menjadi Notaris Kekuasaan?
Di tengah kondisi itulah muncul harapan tentang kebangkitan politik Kristen.
Tetapi jangan buru-buru tepuk tangan.
Karena sejarah membuktikan, banyak kelompok yang lahir dengan idealisme tinggi lalu berakhir sebagai pelengkap dekorasi kekuasaan.
Awalnya datang membawa suara kenabian.
Lama-lama sibuk mengurus kursi.
Awalnya bicara tentang keadilan.
Lama-lama sibuk menghitung jatah.
Awalnya ingin mengubah sistem.
Akhirnya malah menikmati sistem.
Ironisnya, banyak yang tetap mengutip ayat sambil ikut menikmati kenyamanan politik.
Padahal Nabi Natan tidak dipanggil Tuhan untuk menjadi humas Kerajaan Daud.
Elia tidak diutus menjadi staf khusus Raja Ahab.
Yohanes Pembaptis tidak hidup untuk menjadi buzzer istana Herodes.
Mereka hadir untuk menegur ketika kekuasaan mulai kehilangan arah.
Jangan Sampai Salib Hanya Jadi Stiker Bemper Politik
Salah satu penyakit politik identitas adalah menjadikan simbol agama sebagai aksesoris.
Salib dipasang.
Ayat dikutip.
Doa dipanjatkan.
Tetapi perilaku politiknya tidak berbeda dari yang lain.
Kalau kata orang Bekasi:
“Bempernya tulisan Roh Kudus, cara nyetirnya masih setan lewat.”
Kalimat ini memang satir, tetapi mengandung pesan serius.
Bangsa ini tidak membutuhkan lebih banyak simbol keagamaan dalam politik.
Bangsa ini membutuhkan lebih banyak nilai keagamaan yang benar-benar hidup dalam politik.
Jujur ketika ada kesempatan korupsi.
Adil ketika ada tekanan kelompok.
Berani ketika ada ancaman jabatan.
Itulah ukuran sesungguhnya.
Politik Kita Kadang Mirip Angkot Ngetem
Ada satu pelajaran dari angkot Bekasi.
Ketika sopir merasa sudah nyaman di satu titik, dia bisa lupa tujuan perjalanan.
Penumpang menunggu.
Mesin hidup.
Tapi kendaraan tidak bergerak.
Politik juga sering begitu.
Rapat ada.
Pidato ada.
Spanduk ada.
Deklarasi ada.
Tetapi rakyat masih bertanya:
“Terus hasilnya buat kami apa?”
Karena rakyat tidak makan slogan.
Rakyat tidak kenyang oleh konferensi pers.
Rakyat membutuhkan keadilan, pekerjaan, pendidikan yang layak, dan hukum yang tidak pilih kasih.
Garam Jangan Ikut Jadi Micin Politik
Yesus menyebut umat-Nya sebagai garam dunia.
Bukan gula dunia.
Bukan pemanis dunia.
Apalagi micin politik.
Garam bekerja diam-diam tetapi menjaga kualitas.
Micin hanya membuat orang merasa enak sesaat.
Dalam politik, terlalu banyak pihak yang berperan sebagai micin.
Membuat pidato terdengar lezat.
Membuat janji terdengar nikmat.
Membuat keadaan tampak baik-baik saja.
Tetapi setelah itu rakyat kembali merasakan kenyataan yang sama.
Kalau politik Kristen ingin bangkit, jadilah garam.
Berani mengoreksi.
Berani mengingatkan.
Berani berbeda.
Bukan sekadar menambah jumlah orang yang mengangguk ketika kekuasaan berbicara.
Pada akhirnya, Indonesia tidak sedang kekurangan partai.
Yang mulai langka adalah keberanian moral.
Indonesia tidak sedang kekurangan tokoh agama.
Yang mulai sulit ditemukan adalah tokoh yang berani mengatakan benar itu benar dan salah itu salah, meski harus kehilangan posisi.
Karena itu, jika politik Kristen ingin bangkit, jangan mulai dari baliho.
Mulailah dari integritas.
Jangan mulai dari kursi.
Mulailah dari nurani.
Sebab sejarah mengajarkan satu hal:
Dan ketika semua orang berlomba menjadi bagian dari istana, bangsa ini justru membutuhkan seseorang yang tetap berani berdiri di gerbang dan berkata:
“Pak Raja, jalannya mulai melenceng.”
Itulah tugas garam.
Itulah tugas terang.
Dan itulah tugas setiap orang beriman yang masih mencintai bangsa ini lebih besar daripada mencintai jabatan.


