HARI LAHIR PANCASILA 2026: DARI INDONESIA UNTUK DUNIA, MERAWAT KEMANUSIAAN DI TENGAH KRISIS PERADABAN
Jakarta, 30 Mei 2026 – Ketika dunia semakin sering disuguhi berita tentang perang, konflik identitas, polarisasi politik, intoleransi, dan menurunnya rasa saling percaya antarwarga, Indonesia justru memiliki modal sosial yang selama puluhan tahun menjadi perekat kehidupan berbangsa: Pancasila.
Menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni, pesan tentang pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan dan gotong royong menggema dalam Webinar Internasional Seri Literasi Keagamaan Lintas Budaya yang diselenggarakan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Hukum Kementerian Hukum RI bekerja sama dengan Institut Leimena, Jumat (29/5/2026).
Forum yang diikuti lebih dari 10.000 peserta dari berbagai negara tersebut tidak hanya membahas Pancasila sebagai ideologi negara, tetapi juga sebagai jawaban atas tantangan global yang semakin kompleks.
Wakil Menteri Hukum Republik Indonesia, Edward Omar Sharif Hiariej, mengingatkan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar krisis ekonomi atau ketidakstabilan politik. Dunia sedang mengalami krisis nilai yang menggerus rasa kemanusiaan dan solidaritas sosial.
Menurutnya, berbagai fenomena seperti normalisasi kekerasan, meningkatnya diskriminasi, ketimpangan sosial, hingga menurunnya penghormatan terhadap sesama manusia menunjukkan bahwa banyak masyarakat kehilangan fondasi etis dalam kehidupan bersama.
“Bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi atau teknologi, tetapi oleh kemampuan masyarakatnya menjaga kepercayaan dan menghormati martabat manusia,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, Pancasila dinilai memiliki relevansi yang semakin kuat. Nilai-nilai yang terkandung dalam lima sila bukan hanya menjadi dasar negara Indonesia, tetapi juga mengandung prinsip-prinsip universal yang dibutuhkan dunia modern.
Pancasila mengajarkan bahwa keberagaman tidak harus melahirkan perpecahan. Perbedaan keyakinan, suku, budaya, maupun latar belakang sosial justru dapat menjadi kekuatan apabila dikelola dengan semangat persaudaraan dan keadilan.
Kepala BPSDM Hukum Kementerian Hukum RI, Gusti Ayu Putu Suwardani, menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia menjaga harmoni dalam kemajemukan merupakan pengalaman berharga yang dapat menjadi inspirasi global.
Menurutnya, Indonesia adalah laboratorium keberagaman terbesar yang terus membuktikan bahwa persatuan dapat dirawat tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing kelompok masyarakat.
“Perdamaian dunia tidak dimulai dari ruang konferensi internasional, melainkan dari keberhasilan setiap bangsa merawat kebersamaan di dalam negerinya sendiri,” katanya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengingatkan kembali pesan Bung Karno yang menyebut gotong royong sebagai sari pati Pancasila. Dalam kondisi dunia yang semakin individualistis dan kompetitif, semangat gotong royong justru menjadi kebutuhan mendesak.
Gotong royong bukan sekadar budaya membantu tetangga atau kerja bakti di lingkungan masyarakat. Lebih dari itu, gotong royong merupakan cara pandang yang menempatkan kepentingan bersama di atas ego kelompok dan kepentingan pribadi.
Nilai tersebut menjadi semakin penting ketika banyak negara menghadapi gejala meningkatnya xenofobia, kebencian terhadap kelompok berbeda, serta menguatnya politik identitas yang memecah belah masyarakat.
Anggota Dewan Pengarah BPIP, Amin Abdullah, menambahkan bahwa implementasi Pancasila harus dimulai dari cara masyarakat memahami dan menjalankan kehidupan beragama.
Menurutnya, sila pertama tidak boleh dipahami secara sempit. Ketuhanan Yang Maha Esa harus diwujudkan dalam perilaku yang berkeadaban, menghormati perbedaan, serta membangun hubungan yang harmonis dengan sesama warga bangsa.
Pandangan tersebut mendapatkan apresiasi dari berbagai tokoh internasional yang hadir dalam forum tersebut. Vice President G20 Interfaith Forum, Katherine Marshall, menilai Indonesia telah menunjukkan kepada dunia bahwa keberagaman tidak selalu berujung pada konflik.
Ia melihat Pancasila sebagai fondasi yang memungkinkan masyarakat Indonesia bergerak melampaui sekadar toleransi menuju penghormatan, kepedulian, dan solidaritas yang nyata.
Sementara itu, akademisi hukum dan agama dari Amerika Serikat, Brett G. Scharffs, menilai konsep martabat manusia yang menjadi ruh Pancasila memiliki kesamaan dengan berbagai nilai luhur yang berkembang di berbagai peradaban dunia.
Menurutnya, penghormatan terhadap martabat manusia akan menciptakan masyarakat yang lebih kuat, institusi yang lebih dipercaya, serta kehidupan sosial yang lebih berkelanjutan.
Di tengah dunia yang terus mencari formula baru untuk mengatasi perpecahan sosial, Indonesia sesungguhnya telah memiliki warisan pemikiran yang relevan dan terbukti mampu menjaga persatuan selama puluhan tahun.
Karena itu, peringatan Hari Lahir Pancasila tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan. Momentum ini harus menjadi refleksi bersama bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan bangsa menjaga nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, keadilan, dan gotong royong.
Pancasila bukan sekadar peninggalan sejarah. Ia adalah kompas moral yang terus menunjukkan arah ketika bangsa dan dunia menghadapi persimpangan zaman.
Jurnalis: Romo Kefas
Sumber: Yusuf Mujiono


